http://1.bp.blogspot.com/-3wtqqQuoP0s/WcC5oLbSRII/AAAAAAAACe0/gBn-sH9QzhE_wvLp6qq5ototkmheD5gjQCK4BGAYYCw/s1600/Berita24LogoYOGYAKARTA.png

Sekaten, Simbol Multirelasi Bahasa

Sekaten, Simbol Multirelasi Bahasa PASAR Malam Perayaan Sekaten (PMPS) sedang berlangsung di Yogyakarta dan juga Surakarta. Puncak acara PM...

Sekaten, Simbol Multirelasi Bahasa

PASAR Malam Perayaan Sekaten (PMPS) sedang berlangsung di Yogyakarta dan juga Surakarta. Puncak acara PMPS tahun ini pada tanggal 1 Desember 2017, atau bersamaan dengan Maulid Nabi Muhammad Saw. Sebagai acara tahunan, Sekaten tak hanya menarik dilihat sebagai peristiwa bernilai keagamaan/religi (KR, 21/11), tetapi juga sebagai peristiwa budaya, khususnya relasi bahasa Indonesia, daerah dan asing. Benarkah demikian?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi IV (2008: 1243), Sekaten merupakan pasar malam (terutama di Yogyakarta dan Surakarta) yang diadakan tiap bulan Maulid (untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad Saw). Masuknya kata Sekaten di dalam kamus kebanggaan bangsa Indonesia itu, layak diapresiasi. Dan, sekaligus hal itu menjadi penanda (simbol) relasi Bahasa Indonesia dan bahasa daerah (Jawa).

Ditilik dari segi sejarah, Sekaten merupakan salah satu bentuk syiar Agama Islam yang dilakukan Sunan Kalijaga. Di antara sembilan sunan yang ada, Sunan Kalijaga dikenal dengan dakwahnya yang bermuatan seni budaya (Jawa). Lagu Lir Ilir merupakan karya seninya yang pantas disebut di sini.

Relasi Bahasa

Relasi Bahasa Indonesia dan bahasa asing juga dijumpai dalam acara Sekaten. Sekaten berasal dari kata Arab, Syahadatain, artinya ‘dua kalimat syahadat’. Syahadat itu bermakna ‘persaksian dan pengakuan (ikrar) yang benar, diikrarkan dengan lisan, dan dibenarkan dengan hati bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah rasul Allah’. Dengan demikian, Sekaten menjadi simbol dari relasi bahasa Indonesia dengan bahasa asing, khususnya Arab.

Dalam kehidupan orang Jawa, relasi Bahasa Indonesia-Arab juga terjadi saat menjelang bulan Ramadan tiba. Orang Jawa-(Islam) biasanya membuat kolak, (kue) apem, dan ketan, serta memberikan ketiga penganan itu kepada tetangga rumahnya. Kolak dari bahasa Arab, qaala, artinya ‘k atakanlah’. Apem dari bahasa Arab, afwan, artinya ‘maafkan’ atau ‘ampuni’. Dan, ketan dari bahasa Arab, khata’a, artinya ‘kesalahan’. Hingga kini masih ada kebiasaan tersebut.

Selain Bahasa Arab, terjadi pula relasi Bahasa Indonesia-Inggris dalam Sekaten. Tahun 2004, nama PMPS (sempat) berganti menjadi Jogja Expo Sekaten (JES). Saat itu, jika tidak salah ingat, ada pihak yang mengkritik penggunaan Bahasa Inggris pada nama PMPS. Setahun kemudian, nama JES tidak digunakan lagi. Jadi, dari tahun 2005 hingga kini, Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta terus menggunakan nama PMPS.

Nama JES, meskipun hanya dipakai sekali, tetap tercatat sebagai bukti adanya relasi Bahasa Indonesia-Inggris dalam sejarah pelaksanaan Sekaten. Jika ditilik dari sejarahnya, Sekaten memang bermuatan nilai religi. Namun, pada saat dilabeli nama JES, justru nilai religinya hilang, berganti menjadi nilai bisnis semata. Apakah nilai bisnis itu masih ada dalam PMPS kali ini? Biarlah masyarakat Yogyakarta yang menilainya sendiri.

Hanya saja, sebagai orang yang telah hidup selama 17 tahun di Yogyakarta, penulis berharap agar Sekaten menjadi sarana rekreasi budaya di tengah modernitas. Melalui Sekaten, orang luar Yogya dapat mengenali pernak-pernik budaya khas Yogyakarta. Mulai dari tari-tarian, masakan dan minuman, batik, hingga teater tradisional. Jika perlu Pemkot Yogyakarta mengundang Cak Nun dan Kyai Kanjeng-nya pentas dalam perhelatan PMPS.

Milik Kita

Guna melestarikan eksistensi Sekaten, ada dua saran yang ingin saya sampaikan. Pertama, Pemkot Yogyakarta tetap mempertahankan nama PMPS dan tidak menggunakan bahasa asing (Inggris). Pemertahanan nama PMPS menjadi langkah Pemkot Yogyakarta yang sejalan dengan Gerakan Cinta Bahasa Indonesia (GCBI) yang dicanangkan oleh Wakil Gubernur DIY Paku Alam X, beberapa waktu lalu.

Kedua, Pemkot Yogyakarta bersama-sama masyarakat Yogyakarta berupaya mewujudkan Sekat en sebagai sarana rekreasi budaya di tengah modernitas. Untuk itu, tak ada pilihan lain selain mengangkat pernak-pernik budaya Yogyakarta yang multikultural. Yogyakarta merupakan miniatur budaya Indonesia, dan oleh karena itu, Sekaten menjadi sarana kebhinekaan budaya, termasuk multibahasa, tadi. Semoga hal ini dapat kita wujudkan pada PMPS tahun-tahun mendatang.

(Sudaryanto MPd. Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Ahmad Dahlan; Pengurus APPBIPA DIY 2015-2019. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Senin 27 November 2017)

Sumber: Google News | Berita 24 Yogya

COMMENTS

Tulis Artikel
Nama

Lokal,1,Olahraga,8,
ltr
item
Berita 24 DI Yogyakarta: Sekaten, Simbol Multirelasi Bahasa
Sekaten, Simbol Multirelasi Bahasa
Berita 24 DI Yogyakarta
http://www.yogya.berita24.com/2017/11/sekaten-simbol-multirelasi-bahasa.html
http://www.yogya.berita24.com/
http://www.yogya.berita24.com/
http://www.yogya.berita24.com/2017/11/sekaten-simbol-multirelasi-bahasa.html
true
1369823490046250459
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy