GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

Geliat Warga Yogyakarta Lestarikan Air Sungai

Geliat Warga Yogyakarta Lestarikan Air Sungai

SUSUR SUNGAI. Relawan menyusuri Sungai Winogo dengan menggunakan tubing. Foto oleh Dyah Pitaloka/RapplerOleh Dyah Ayu PitalokaYOGYAKARTA, Indonesia â€"Daerah Istimewa Yogyakarta d…

Geliat Warga Yogyakarta Lestarikan Air Sungai

Geliat Warga Yogyakarta Lestarikan Air Sungai SUSUR SUNGAI. Relawan menyusuri Sungai Winogo dengan menggunakan tubing. Foto oleh Dyah Pitaloka/Rappler

Oleh Dyah Ayu Pitaloka

YOGYAKARTA, Indonesia â€"Daerah Istimewa Yogyakarta dilalui enam sungai besar yang semuanya berhilir di Sungai Opak. Ada Sungai Winongo, Tambak Bayan, Code, Gajah Wong, Kali Kuning. Terdapat puluhan sungai kecil pecahan dari lima sungai besari yang beberapa berhulu di kaki Merapi itu.

Ada sekitar 21 forum sungai yang bergiat menjaga kelestarian sungai- sungai tersebut. Mereka adalah warga yang hidup disekitar aliran sungai dan bergelut dengan air untuk kehidupan sehari-hari. Kelompok akar rumput yang hidup dan menghidupi diri dari kelestarian sungai.

Endang Rohijani duduk beristirahat Sabtu selepas siang 24 Maret 2018. Ia mengingat berbagai temuan dari kegiatan Susur Sungai Winongo yang rangkaiannya berlangsung sejak awal bulan ini. Hari itu adalah puncak kegiatan yang dihelat berupa susur sungai Winongo sepanjang 3 km, menggunakan tubing.

Kegiatan yang dilakukan untuk memperingati Hari Air Dunia itu diprakarsai oleh Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak. “Kami ini kan mitra pemerintah, kalau kamu keliru ya kami berteriak. Sampai sekarang masih banyak hal hal yang mengotori sungai. Kami memetakan permasalahan sesuai dengan keahlian masing-masing,” kata Endang.

Sekjen kepanitiaan susur sungai Winongo itu memaparkan, panitia dan pesertanya terdiri dari Komunitas Sungai Yogyakarta, mahasiswa dan akademisi dari sejumlah perguruan tinggi, seta instansi pemerintah. Dari kegiatan susur sungai itu, ia mencatat sejumlah temuan yang menurutnya penting untuk segera diatasi. “Limbah domestik masih dibuang ke sungai. Banjir. Di aliran sungai lain masih ada limba h ternak sapi, babi dan industri tahu dibuang ke sungai. Pemukiman mepet sungai juga masih banyak, juga kawasan rawan longsor. Anggaran pemerintah seharusnya bisa dialokasikan lebih tepat mengatasi hal yang benar benar butuh ditangani dengan tepat,” kata Endang yang sehari-hari adalah anggota dari Forum Komunikasi Winongo Asri (FKWA), satu diantara 21 forum komunitas yang tergabung dalam Komunitas Sungai Yogyakarta.

Sebagai warga yang tinggal di sekitar sungai Winongo, ia sering terganggu dengan meluapnya air di awal musim hujan. Sungai Winongo menjadi berwarna kehitaman dengan bau yang menyengat. Aliran drainase yang masuk ke sungai yang membelah Kota Yogyakarta itu diduga menjadi penyebab pencemaran.

Sementara sungai sepanjang 53 km itu masih digunakan sejumlah warga untuk kebutuhan mandi dan cuci. Bahkan mata air sungai yang ada di kawasan Tegalrejo menjadi sumber air untuk warga di wilayah Badran Bumirejo. Maka jika terjadi banjir dan bau menyengat, warga harus m engungsi ke sumur terdekat untuk mendapatkan akses air bersih atau menggunakan PDAM bagi sebagian yang mampu. Sungai terpanjang di Yogyakarta itu melewati 19 Kecamatan di Yogyakarta, Sleman dan Bantul.

Bentuk Satgas Sampah

Hal serupa juga dirasakan warga sekitar Sungai Tambak Bayan. Penduduk sekitar sungai sepanjang 30 km, membentang dari Cangkringan hingga Opak itu sering mengalami banjir jika hujan tiba. Meskipun luapan masih dalam kondisi aman, namun banjir datang dibarengi dengan bau menyengat serta sampah plastik hingga sampah rumah tangga yang turut hanyut.

Banjir yang muncul juga sering menghanyutkan ikan yang dibesarkan di tambak warga di wilayah Desa Kalongan, bagian tengah dari aliran sungai Tambak Bayan. “Limbah rumah tangga, industri dan sampah banyak mengotori sungai. Air yang tercemar mempengaruhi kualitas tumbuhan, ikan dan air tanah di sekitar sungai. Karena air adalah sumber kehidupan,” kata Kismiyadi dari Kelompok Kerja Tamb ak Bayan.

Di sepanjang sungai Tambak Bayan, terutama di wilayah pemukiman, Kismiyadi menggagas relawan peduli sampah untuk meminimalisir aksi buang sampah di sungai. Mereka adalah warga setempat dengan profesi pekerjaan beragam, mulai dari tukang becak, ojek sampai petugas keamanan.

Upaya itu dirintis sejak tahun 2014. Hasilnya aktivitas membuang sampah di sungai bisa dikurangi karena gagasannya lambat didukung warga. “Relawan ini paling tahu tempat dan jam tertentu warga suka buang sampah ke sungai," katanya. Tugas mereka adalah memberikan sanksi sosial pada pembuang sampah. Bentuknya berupa denda dan mengisi surat pernyataan untuk tidak membuang sampah di sungai lagi. Warga Tambak Bayan berencana melakukan bersih sungai bersama di Tambak Bayan pada Minggu 25 Maret 2018 untuk memperingati hari air dunia.

Cek kualitas air sendiri

EDITORS' PICKS

  1. Suara Millennials: Seberapa Efektif Gerakan Earth Hour untuk Menjaga B umi?
  2. Punk Tidak Mati di Indonesia, Mereka Menjadi Islami

Bagian dari Komunitas Sungai Yogyakarta yang lain, Asosiasi Komunitas Sungai Yogyakarta (AKSY) melakukan hal berbeda untuk melestarikan sungai. Bentuknya berupa biotilik, melihat kualitas air sungai dengan sensus keberadaan serangga tidak bertulang belakang yang ada di dasar sungai. Peserta Biotilik turun ke sungai dengan dibekali selembar slebaran berisi daftar nama dan gambar serangga yang diletakkan sesuai indikator warna dan angka. Indikator warna biru menunjukkan serangga yang sangat sensitif dengan pencemaran, warna hijau untuk serangga yang sensitif, warna merah untuk serangga yang toleran dan abu-abu untuk serangga yang sangat toleran terhadap pencemaran.

Geliat Warga Yogyakarta Lestarikan Air Sungai BIOTILIK. Kegiatan biotilik dengan melakukan sensus serangga yang ditem ukan di dasar sungai. Foto oleh Dyah Pitaloka/Rappler

Sensus dilakukan dengan mencatat minimal 100 serangga yang dijumpai berada di balik bebatuan di dasar sungai. “Jika banyak menjumpai serangga di kategori warna biru berarti kualitas sungainya tidak tercemar, tapi jika banyak menjumpai abu-abu kualitas sungai tercemar berat. Serangga menjadi indikator alami tingkat pencemaran air sungai,” kata Anton Sujarwo, anggota Aksy yang juga mahasiswa Departemen Teknik Sipil Sekolah Vokasi UGM. Biotilik dalam rangkaian peringatan Hari Air Dunia dilakukan pada 3 Maret dan 10 Maret di beberapa titik sepanjang Kali Code.

Akar rumput dan upaya mencari keadilan air

Gerakan komunitas sungai yang diinisiasi oleh warga disekitar bantaran sungai menjadi upaya penting untuk mencapai perubahan. Akademisi Universitas Gadjah Mada yang fokus pada studi Keadilan Lingkungan Maharani Hapsari mengatakan gerakan akar rumput ini adalah gerakan yang muncul dari kesadaran warg a terhadap persoalan tentang konservasi air dan kemudian diikuti dengan upaya melakukan inisiatif perubahan. “Mereka adalah gerakan berbasis kolektif yang menghadapi isu dalam keseharian dan mendesak untuk diselesaikan,” kata Maharani di tepi Sungai Winongo.

Menurutnya gerakan warga yang dilakukan dalam komunitas sungai mampu menjadi bentuk eskpresi dari warga untuk mendayagunakan hak politiknya secara langsung. Meskipun ada lembaga perwakilan politik bagi masyarakat, namun gerakan kolektif dianggap lebih efektif karena berdasar masalah di keseharian dan tidak melalui birokrasi yang panjang. “Gerakan ini penting karena tata kelola air berkeadilan menyangkut bagaimana individu sebagai pemegang hak mendayagunakan hak politiknya secara langsung. Meskipun ada sistem representasi, kalau menunggu representasi itu akan memakan waktu lama sekali,” katanya

Geliat Warga Yogyakarta Lestarikan Air Sungai DITEMUKAN. Serangga yang ditemukan di batu dalam aktivitas biotilik. Foto oleh Dyah Pitaloka/Rappler

Setelah masalah dan solusi ditemukan oleh gerakan akar rumput, menurutnya yang perlu dilakukan adalah menempatkan solusi tersebut dalam kerangka jangka panjang yang lebih luas. Peringatan Hari Air Dunia bisa menjadi ajang konsolidasi warga serta berbagai instansi yang ada sekaligus menjadi momen untuk mendorong berubahnya sistem untuk menjawab permasalahan. Solusi di akar rumput perlu ditempatkan dalam kerangka jangka panjang dan lebih luas, bukan hanya sehari hari tapi juga sistem yg berubah.

"Bukan hanya mendorong perubahan di keseharian tapi juga menyangkut sistem yang berubah, jadi yang penting adalah apa yang bisa dilakukan setelah event seperti ini usai. Bagaimana mendorong terjadinya transformasi,” lanjutnya.

Di Yogyakarta, ia melihat gerakan kolektif dari warga muncul dengan baik. Gerakan itu memiliki karakter sangat beragam pada individunya, dan berbeda dengan LSM. Meskipun salah satu kendalanya adalah sering kali sulit fokus pada satu masalah karena masing-masing individu memiliki keragaman ketertarikan. “Mungkin Yogya diuntungkan karena wilayahnya dinamis, sering terekspos dengan berbagai aktivisme, sehingga karakter masyarakatnya lebih percaya diri. Pemetaan persoalan menjadi tantangan gerakan akar rumput, karena keragaman fokus kerja mereka," imbuhnya.

Mahasiswa antusias bersihkan sampah

Rahmat Nur Handoko ikut menyusuri sungai Winongo dengan cara tubing. Ia hanyut sepanjang 3 km bersama sejumlah rekannya dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta. Sepanjang sungai ia melihat dan memungut sampah kantong plastik yang dijumpai. Di awal berangkat sampah tidak banyak, tetapi air sungai bau. Semakin jauh terhanyut semakin banyak bertemu sampah, bahkan ada sampah besi di tengah sungai. Ranting pohon bambu juga ada yang hampir roboh karena tergerus erosi. Tebing sungai rawan longsor karena tidak di beri bronjong, pemukiman penduduk juga banyak dibantaran sungai. Tadi juga ketemu penambang pasir rumahan,” kata Rahmat menyebutkan hasil pengamatannya.

Pengamatan itu adalah kegiatan ke dua yang diikuti selama dua tahun terakhir dalam rangkaian peringatan Hari Air Dunia. Jika tahun lalu ia diunang oleh komunitas sungai, kali ini dia mendaftar sendiri melalui pengumuman yang didapatnya tersebar di media sosial. Rahmat berharap sungai di Yogyakarta tetap bersih dan lestari.

Sementara Kepala BBWS Seayu Opak Tri Bayu Aji mengatakan kegiatan itu sengaja melibatkan unsure warga serta mahasiswa karena kebersihan dan kelestarian sungai adalah tanggung jawab bersama.

â€"Rappler.com

Read More Line IDN TimesSumber: Google News | Berita 24 Yogya

Tidak ada komentar