www.AlvinAdam.com

Berita 24 Yogyakarta

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Mencecap Syiar Islam Damai dari Bubur Lodeh Panembahan ...

Posted by On 02.51

Mencecap Syiar Islam Damai dari Bubur Lodeh Panembahan ...

Mencecap Syiar Islam Damai dari Bubur Lodeh Panembahan Bodho di YogyakartaBubur lodeh di Masjid Kauman Bantul. Foto oleh Dyah Ayu Pitaloka/Rappler

Oleh: Dyah Ayu Pitaloka

YOGYAKARTA, Indonesia â€" Jumat selepas siang, belasan perempuan mulai menyalakan api di tungku untuk memasak bubur. Hari itu mereka mengolah 4 kg beras untuk 400 piring bubur sebagai menu berbuka di setiap Ramadan.

Setumpuk kayu menunggu digunakan sebagai bahan bakar memasak selama Ramadan berlangsung. Ada pula beragam bahan mentah seperti telor, mie letek, sayur, tempe, tahu dan aneka buah segar sumbangan warga setempat. Semuanya diolah menjadi bubur lodeh khas Masjid Kauman di Dusun Kauman, Kelurahan Wijirejo, Kecamatan Pandak Kabupaten Bantul , Yogyakarta. Menu buka yang dipercaya ada di masjid itu sejak abad 15 hingga saat ini.

Simbol syiar islam damai dalam bubur

Mencecap Syiar Islam Damai dari Bubur Lodeh Panembahan Bodho di YogyakartaSayur lodeh menjadi pelengkap bubur di Masjid Kauman Bantul. Foto oleh Dyah Ayu Pitaloka/Rappler

Takjil dengan bubur adalah simbol Islam yang melekat dalam praktek keseharian selama Ramadan. Takmir masjid Hariyadi menuturkan, tradisi bubur dimulai oleh Raden Trenggono atau juga dikenal sebagai Panembahan Bodho, murit dari Sunan Kalijogo yang mengelola tanah perdikan di Dusun Kauman. Menurutnya, terdapat empat filosofi Islam yang berbeda dalam bubur yang dipelajari secara turun temurun, yaitu pada kata Bibirin, Beber, Babar dan Bubur.

Bibirin bermakna sebagai hal yang bagus yang akan disampaikan dan didapatkan oleh mereka yang datang ke masjid, yaitu ajaran Agama Islam. Beber berarti akan dijelaskan tentang ajaran agama Islam, dalam bentuk pengajian atau yang lain.

Seperti sore itu, warga mendengarkan pengajian menjelang waktu berbuka. Babar, disamakan dengan sifat bubur yang ekonomis dan merata untuk semua kalangan, bermakna bahwa Islam harus merata dan bisa dipahami di semua kalangan. Serta bubur yang bertekstur lembut, yang melambangkan penyebaran Islam menggunakan cara yang lemah lembut, tidak dengan jalan kekerasan atau menggunakan kekuasaan dan politik.

“Dan itu ternyata berhasil. Para wali itu juga menyampaikan ajaran Islam dengan lemah lembut dan halus. Tidak cukup dengan kata tetapi juga menggunakan simbol dan budaya. Ini lebih meresap pada umat,” katanya.

Memilih simbol nampanya tak semudah yang dibayangkan. Ada hal tertentu yang menyebabkan sebuh simbol lebih bisa diterima dibandingkan simbol yang lain. Lodeh yang kini menja di teman menyantap bubur misalnya, berasal dari Keraton Yogyakarta. Hariyadi mengingat, menu lodeh baru muncul di masa seputar reformasi, di akhir tahun 1990an.

Kala itu keraton berpesan untuk memasak lodeh sebagai bentuk dari mawas diri. Sebelumnya menu bubur dimakan dengan sayur apapun. Lodeh katanya, menyimbolkan pesan untuk selalu mawas diri di masa sulit. “Lodeh itu pesan keraton, agar orang mawas diri. Pesan ini muncul di masa reformasi. Kita menyesuaikan dengan pesan itu, ini bentuk ada hubungan harmonis dengan keraton," lanjutnya.

Hingga saat ini warga masih mengingat bakti Raden Trenggono dengan melakukan tradisi Nyadran menjelang Ramadan di makam sewu.

Mengenakan kopiah hitam dan sarung, Hariyadi melanjutkan bubur lodeh juga pernah diganti dengan nasi gulai di suatu masa lima tahun lalu. Saat itu tujuannya hanya untuk memberi tanda bahwa puasa telah memasuki hari ke 20 atau lazim disebut malam likuran. Ada warga yang menyumbangkan nasi dan gulai un tuk menu buka di masjid. Namun simbol itu gagal diterima.

“Warga protes. Karena sudah terbiasa buka puasa pakai bubur jadi perutnya sakit karena makan nasi,” kata takmir masjid dua tahun terakhir itu. Praktis sejak itu, bubur tak pernah diganti lagi dengan menu lain.
Perubahan lain menyangkut nama masjid. Masjid yang turun temurun disebut dengan nama Kauman kini juga memiliki nama Masjid Sabilurrosyad. Nama yang berarti penunjuk jalan itu digunakan mengikuti kebutuhan administrasi dari Kantor Kementrian Agama setempat. Kini warga sekitar masih menyebut masjid itu sebagai Masjid Kauman.

EDITORS' PICKS

  1. 66 Jam yang Menegangkan: Kronologi Jelang Soeharto Lengser
  2. 20 Tahun Reformasi: Negara Masih Takut Ungkap Kasus 65

“Nama masjid Kauman ini mengikuti nama kampung Kauman di sini. Masa ketika santrinya banyak. Dulu, cerita si mbah, ada rumah-rumah untuk pondok itu di sekitar sini,” kata pria berusia 51 tahun itu.

Hal lainn ya, kini perempuan dilibatkan dalam proses memasak bubur yang berada di lingkungan masjid Kauman. Koki laki-laki kata Hariyadi sudah tidak lagi memasak bubur mengikuti semakin banyaknya bubur yang dimasak.

“Bubur bertambah mengikuti pertambahan populasi. Tahun 1980 an masih 3 kilo, tahun 1990an naik jadi 4 kilo beras. Sudah nggak mampu masak kalau banyak,” terang Hariyadi yang lama menjabat sebagai sekretaris masjid.

Menurutnya menu bubur menjadi lebih banyak dan lebih spesial pada hari Jumat. Sebab hari itu dipercaya sebagai hari baik untuk beramal dan ada banyak santunan warga yang masuk di hari Jumat. Masjid pun menyediakan pengajian yang mendatangkan ulama dari luar Pandak khusus di hari Jumat. ‘Ini agar tidak bosan saja, biar ada ulama baru, tidak sekedar itu itu saja,” katanya.

Bubur sumbangan warga

Mencecap Syiar Islam Damai dari Bubur Lodeh Panembahan Bodho di YogyakartaFuthikhah (paling kiri) dan perempuan lain menyiapkan bubur lodeh menjelang berbuka. Foto oleh Dyah Ayu Pitaloka/Rappler

Seperti sore itu, Futikhah menjadi kepala koki sekaligus bendahara yang memasak 4 kilo beras untuk sekitar 400 piring bubur. Disiapkan pula tempe 200 potong, rambak 1 kilogram, telur puyuh 1200 butir, mie lethek srandakan, dan melinjo. Sejumlah dus berisi buah stroberi dan anggur segar disiapkan sebagai teman kudapan saat berbuka. Sejak pukul 13:00 siang, ia dan belasan perempuan lain mulai memasak bubur dan kuah lodeh menggunakan tungku berbahan bakar api di dapur masjid. Semua bahan tersebut adalah pemberian warga yang diserahkan sejak sebelum Ramadan.

“Semua bahan adalah pemberian warga sebelum Ramadan. Semuanya kami pakai. Kami memasak pakai kayu karena warga menyumbangkan kayu untuk memasak,” kata Fu tikhah.

Bubur dimasak menggunakan garam, kelapa, dan daun salam menghasilkan rasa yang gurih dan lembut di mulut. Kali ini lodehnya berisi irisan tempe, krecek, telur puyuh dan kulit melinjo. Ada pula mie lethek khas Srandakan dengan sayur dan irisan petai yang menemani bubur lodeh di piring yang sama. Ragam bumbu dan menu di satu piring menghasilkan rasa yang gurih dan manis.

Ratusan warga terlihat mulai memasuki masjid menjelang waktu berbuka. Jumat itu, ada ulama dari Kecamatan Pajangan yang memberikan pengajian sambil menunggu waktu berbuka. Sementara sekitar 70 pemuda dan pemudi anggota Remaja Masjid membagikan teh hangat, buah dan bubur pada umat. Berbekal nampan, laki-laki dan perempuan bekerja sama membagikan makanan dan minuman.

Sementara sekelompok wisatawan juga terlihat sibuk mengabadikan bubur serta kesibukan menjelang berbuka di masjid itu. Hariyadi menyebut masjidnya semakin sering dikunjungi wisawatan baik dari sekitar Yogyakarta hingga dari luar n egeri. Seperti rombongan wisatawan dari Malaysia, dan Singapura di petang itu. “Ini dari Bernama (kantor berita) di Malaysia, mungkin ini semacam wisata religi dan budaya begitu,” ujar Hariyadi.

Tak lama berselang bedug Magrib pun tiba. Umat berbuka di dalam masjid, sementara para wisatawan dipersilahkan menyantap bubur di teras khusus untuk tamu, tak jauh dari masjid. Benar kata Hariyadi, bubur yang lembut rasanya cocok untuk mengawali berbuka setelah perut berpuasa sepanjang hari.

â€"Rappler.com

Read More Line IDN TimesSumber: Google News | Berita 24 Yogya

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »